Senin, 18 Februari 2013

Ketika Kesedihan dan Kebahagiaanku Hadir

Ketika kesedihanku lahir, segeralah ku sambut dengan suka cita. Aku merawatnya dengan baik, seraya melihatnya dengan tatapan yang lembut. Sementara kesedihanku adalah segala hal yang hidup, kuat, indah dan menyenangkan. Tidak butuh waktu lama untuk kami saling mencintai, karena kesedihanku terus memotivasi untuk mencintainya. Dan karena kesedihanku memiliki perasaan yang halus dan hati yang baik, maka aku pun terpikat kepadanya. Sedangkan kami pun akhirnya sama-sama mencintai dunia dan apa yang ada di sekeliling kami dengan cinta yang besar. Kami terus bersama dalam merenda hari-hari. Terus berdampingan, sehingga siangnya membuat kami terbang dan malamnya membuat kami terikat rapat. Mimpi kami pun sama, yaitu keindahan yang terungkap setelah tiba masa kemudahan. Dan ketika aku dan kesedihanku berjalan baik siang ataupun malam, orang-orang melirik kepada kami. Mereka memandang dengan mata sayu sembari berbisik yang mengandung kata-kata keindahan. Bahkan ada segolongan dari mereka yang iri kepadaku dan kesedihanku, karena kami tetap bisa bersama dalam suka. Aku pun bangga karena sikap mereka itu, sebab kesedihanku adalah sosok yang mulia. Terlebih ketika mereka hingga menundukkan pandangan kepadaku sebagai tanda hormat, atau saat mereka sudi memberikan senyuman manisnya. Namun, kesedihanku akhirnya terserang penyakit lemah lalu ia mati sebagaimana semua yang hidup. Sehingga aku pun di tinggal sendirian dalam kesepian. Lalu disaat inilah datang sosok lain dalam balutan yang cerah dan menawan. Ia adalah kebahagiaanku yang baru saja dilahirkan. Aku sangat senang menyambutnya, bahkan tanpa ragu-ragu lagi menggendongnya dengan lenganku. Inilah yang aku nantikan sejak kesepian di tinggal mati oleh kesedihanku. Sehingga setiap apa yang kebahagiaanku minta selalu dituruti. Terus saja seperti itu tanpa mengenal letih dan cukup. Bahkan setiap harinya selalu menambahkan apa saja yang ingin didapatkan, meski larut malam telah menyelimuti wajah hari. Tapi ternyata kebahagiaanku menjadi pucat dan lemah, ia tidak lagi bisa bermain dan menemaniku dalam mengisi hari-hari yang sempit. Padahal tidak ada lagi bagiku selain bisa menggenggam cintanya. Aku telah mabuk dalam kesenangan kebahagiaanku. Dan ketika kebahagiaanku mati, aku hanya bisa menangis dan terus meronta-ronta. Aku terus teringat dengan kebahagiaanku dan merasa begitu ceroboh dalam menjaganya. Tidak pernah ku perhatikan tentang kondisi kesehatannya, sehingga baru tahu bahwa ia sakit setelah wajahnya memucat dan tubuhnya lemah. Dan yang paling membuatku menyesal dan sedih adalah saat mengetahui bahwa ia telah mati dan jauh meninggalkanku dalam kesendirian. Sehingga dalam penyesalan aku hanya bisa berguman; “Kebahagiaan adalah daun-daun di musim gugur, yang harus gugur ketika tiba waktunya. Sedangkan kesedihan adalah bunga-bunga di taman, yang akan mekar ketika datang musim semi”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar