Kamis, 07 Maret 2013

HUJAN

hujan mengetuk lembut jendela kamarku pagi ini. Rintik-rintiknya seperti menjatuhkan sejuta kenangan. Ya kenangan akan aku, kamu, kita. Seketika semua tentangmu muncul dan berlari-lari kecil dalam ingatanku. Setiap langkah dan jalan yang pernah kita lalui bersama, bergandengan erat dalam suka dan duka, setia dalam kejayaan maupun keterpurukan, sabar dalam tangis dan tawa, kembali menyeruak dari ingatan yang ingin ku kubur untuk selamanya. Ku buka jendela kamar dan bulir-bulir air hujan membasahi, mengalir melalui sela-sela jemariku, rongga jemari yang dulu pernah kamu isi dengan jemarimu. Aku lupa bagaimana rasanya hangat sentuhan penuh kasih dan sayang, bukan karena terlalu lama dalam kesendirian, melainkan terlalu lelah menahan luka dan kecewa hingga aku lupa bagaimana hangatnya cinta. Ku tatap jauh ke ujung langit, cakrawala tempat dimana langit dan bumi seolah bertemu. Indah namun hanya tipuan semata, karena langit dan bumi tak akan mungkin bertemu pada satu titik. Sama seperti hubungan yang telah lama kita bangun bersama, indah penuh dengan dinamika namun sesungguhnya palsu. Hati kita berdua tahu bahwa hubungan ini tak akan mungkin berakhir dengan cerita bahagia. Aku dan kamu, berusaha sekuat tenaga berlari menuju ujung cakrawala untuk mengejar "kita" dan mewujudkannya menjadi nyata selamanya. Tak akan sampai, tak tergapai. Ujung cakrawala itu tidak ada sayang. Satu persatu kerikil tajam mulai melukai dan memperlambat langkah kita menuju akhir yang bahagia. Segala perbedaan dan bentangan jarak pun semakin membuat kita gontai. Entah berapa banyak lagi ombak yang mampu kita terjang sebelum akhirnya perahu kita karam dan tenggelam dalam palung kegagalan. Ku tatap dalam matamu, terlihat jelas gambaran segala lelah, penat, jenuh dan sangat terbebani dengan semua ini. Tanpa perlu kamu ungkapkan pun aku tahu kamu ingin lepas dan berlalu pergi, menjauh dan tak ingin kembali. Aku tak ingin kamu terluka, pun tak ingin kehilanganmu. Iya, ini semua egoku yang bersebunyi dibalik kedok cinta. Sama seperti batu di pekarangan yang terus menerus bertahan dari tetesan hujan, lambat laun akan retak kemudian hancur tak mampu menahan hujaman ribuan tetes butiran hujan, begitupun kita. Lelah dengan semua ini, muak dengan segala rintangan hingga akhirnya kamu memutuskan untuk menyerah kalah pada keadaan. Hari yang kita tahu akan datang, hari yang sungguh ingin ku hindari, hari yang akan mengubah semua bayangan indah tentang kita di masa depan. Segala cara kulakukan agar kamu tak pergi, tapi dengan segenap kebulatan tekadmu, aku tak berdaya. Hanya bisa terdiam, menahan segala gejolak batin, mencoba untuk tegar dan tersenyum melepas kepergianmu. Satu senyuman, satu pelukan dan satu kata perpisahan, mengakhiri semua cerita dalam lembar perjalanan panjang cinta kita. Dingin dan getirnya angin hujan ini membuatku merindukanmu. Rindu yang hanya membuatku pilu, membuatku teringat akan kamu yang tak mungkin lagi ku gapai, kamu yang telah pergi, kamu yang telah menghapus aku dari kehidupanmu, kamu yang tak lagi menganggap aku ada. Aku terduduk dan tertunduk lesu, menyadari bahwa yang tersisa hanya duka mendalam atas kehilangan, dahaga akan kerinduan yang tak akan terpuaskan, penantian yang tak akan pernah berujung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar